Desember 30, 2008
Rasa syukur yang dalam turut mewarnai komunitas Sangkanparan dalam menjalani hari-harinya yang padat dengan kerja baktinya di Cilacap. Meski belakangan ini, Sangkanparan sedang serius-seriusnya merancang program untuk ekstrakurikuler beberapa sekolah di Cilacap, namun kesempatan berbagi dan berpartisipasi dalam ajang Festival tetap dilakukan. Tak disangka Film Pendek berjudul Kampung Laut arahan sutradara Insan Indah Pribadi, terpilih sebagai film dokumenter terbaik dalam ajang MAVIE FEST 2008.
Kemenangan ini disampaikan melalui sms dari pihak MAVIE FEST sehari setelah Malam Penganugerahan MAVIE FEST 2008. Meski sebelumnya pihak Mavie telah mengabarkan bahwa film Kampung Laut masuk menjadi nominator dalam ajang MAVIE FEST 2008, namun beberapa kendala menyebabkan rekan-rekan komunitas Sangkanparan tidak dapat hadir dalam ajang tersebut.
Baca entri selengkapnya »
Leave a Comment » |
Pagelaran |
Permalink
Ditulis oleh buletincangkir
Desember 30, 2008
Malam itu, tepat pada malam Nuzulul Quran, Cangkir berkunjung ke kediaman Kuswaidi Syafei. Meski sempat beberapa kali salah jalan, namun akhirnya Cangkir berhasil tiba di rumahnya yang tenang. Begitu tiba di depan pintu, sambutan ramah dari tuan rumah seolah menghapus rasa lelah. Kehangatan itu masih ditambah dengan secangkir kopi panas kebul-kebul yang menemani perbincangan kami sepanjang malam itu.
Kuswaidi adalah salah seorang penyair yang tenar karena puisi-puisi sufistiknya. Saking lekatnya julukan ini, sampai-sampai tema apapun yang ditulis dalam puisinya pasti diidentikkan dengan sufisme. Bait-bait puisinya, seperti diutarakan sendiri olehnya, disemangati oleh kerinduan, kerinduan terhadap kampung halaman rohani. Gemeretak jiwa yang selalu merindukan tempat di mana ia bermula. Dengan pengetahuan yang luas terhadap khazanah puisi sufistik, dari para penyari seperti Rumi, ia mengambil ruh dan spirit yang kemudian ia padukan dengan pelafalannya sendiri yang khas.
Baca entri selengkapnya »
Leave a Comment » |
Bincang-bincang |
Permalink
Ditulis oleh buletincangkir
Desember 30, 2008
Sosoknya biasa saja. Hidupnya amat bersahaja. Bicaranya tidak ndakik-ndakik. Namun kalau berbicara agama, terdengar teduh seteduh rumahnya di Tinggar Jaya, Jati Lawang, Banyumas. Tapi sebenarnya banyak hal yang tersimpan dalam sosoknya yang kecil. Banyak hal yang tidak biasa-biasa saja dalam diri Ahmad Tohari.
Karya-karyanya luar biasa, sudah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Pengalamannya juga luar biasa. Dari memancing di tepi kali di dekat rumahnya, sampai memancing perdebatan di kampus-kampus hingga Amerika. Ketajaman dan kedalaman pikirannya sangat mencengangkan. Filosofi dan prinsip hidupnya juga tak terbantahkan. Misalnya dalam berkarya, “Realita di dunia ini harus dibaca. Mana mungkin ada realita dinafikan begitu saja. Satu realita pasti sebuah ayat. Jadi tidak bisa tidak. Kalau kita mau iqro’, ya semua harus dibaca. Inilah realita, dan kamu akan memperoleh pelajaran darinya. Iqro’ Bismirobbika alladzi al kholaq.”
Baca entri selengkapnya »
Leave a Comment » |
Bincang-bincang |
Permalink
Ditulis oleh buletincangkir