Mei 29, 2009
Afthonul Afif
Modernitas dengan ciri pengagungan “kesubjekan” yang disemaikan sejak abad ke-16 oleh para filsuf pencerahan mendapatkan interupsi dari anak kandungnya sendiri. Setidaknya ada tiga bentuk interupsi besar (the great interruptions) yang mewarnai perjalanan peradaban modern dan ilmu pengetahuan selanjutnya—teori Evolusinya Darwin, teori Psikoanalisisnya Freud, dan teori Relativitasnya Einstein.
Baca entri selengkapnya »
1 Komentar |
Humaniora |
Permalink
Ditulis oleh buletincangkir
Mei 29, 2009
Alkisah, Santiago seorang bocah petani di Spanyol, mengubah hidupnya dari seorang petani miskin menjadi seorang gembala domba demi untuk memenuhi keinginannya berkelana melihat daerah-daerah lain di luar kampungnya. Kisah berjalan, petualangan Santiago membawanya kian jauh dari kampung halaman. Makin jauh ia berjalan, makin banyak pengalaman yang ia peroleh, hingga suatu saat ia mengetahui satu hal yang sangat penting bagi hidupnya: legenda pribadi. Ini adalah semacam konsep tentang harta paling berharga milik seseorang. Dan, dibutuhkan upaya keras untuk mendapatkannya. Tergoda menemukan legenda pribadinya, Santiago mengubah dirinya dari seorang penggembala pengembara menjadi seorang pengembara murni.
Ia kemudian menjual dombanya, mengembara menyeberang lautan, melintasi gurun, dan menempuh berbagai kesulitan dengan membawa satu keyakinan bahwa alam semesta akan membantu setiap orang yang bersungguh-sungguh mewujudkan keinginannya. Namun setelah berbagai petualangan dijalani, ternyata legenda pribadi– harta terbesar yang dicarinya–justru berada di kampung halamannya sendiri: di bawah pohon sikamor di sebuah biara tempat ia bersekolah di masa lalu.
Bagi yang belum membaca, kisah di atas adalah kutipan dari novel Sang Alkemis karya Paolo Coelho, seorang penulis Brasil. Dalam konteks sekarang, legenda pribadi barangkali bisa diartikan sebagai kepemilikan atas faktor-faktor ekonomi, karier, jabatan, atau bentuk-bentuk semacam itu yang berujung pada kesejahteraan. Sementara petualangan barangkali bisa diartikan sebagai merantau demi mengakumulasikan pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh dari berbagai wilayah yang kemudian diintegrasikan menjadi karakter dan pandangan hidup.
Baca entri selengkapnya »
Leave a Comment » |
Tinjauan |
Permalink
Ditulis oleh buletincangkir
Mei 29, 2009
Sentralitas kota-kota besar sebagai pusat ekonomi, politik, pendidikan, kebudayaan, informasi, teknologi, membuat kota seolah memberi ruang aktualisasi diri yang lebih longgar. Tidak heran, jika banyak orang yang kemudian berpindah ke kota. Di antara sekian banyak kelompok yang melakukan hijrah semacam itu, salah satunya adalah seniman.
Terutama bagi para seniman, kota menyediakan segala sesuatu yang mereka butuhkan untuk mengaktualisasikan diri. Infrastruktur kesenian, baik fisik maupun non fisik, yang lebih lengkap, media publikasi karya, galeri, gedung kesenian, infrastruktur pelatihan dan pendidikan kesenian seperti perguruan tinggi, diskusi, dan even-even kesenian yang digelar secara rutin, baik mingguan, bulanan, maupun tahunan. Ringkasnya, segala sesuatu yang bisa mendukung masa depan karier kesenian mereka tersedia di kota.
Baca entri selengkapnya »
Leave a Comment » |
Tinjauan |
Permalink
Ditulis oleh buletincangkir
Mei 29, 2009
Calung merupakan salah satu khazanah kesenian Cilacap dan sekitarnya. Pada masa lalu, kesenian ini pernah menjadi primadona yang dikenal luas dan bisa mengantarkan para pelakunya ke puncak-puncak popularitas dan materi.
Namun, pada masa-masa sekarang ini, alunan gending pengiring Calung kian lirih terdengar dan lenggak-lenggok para penarinya pun kian melemah, sementara popularitasnya kian tergerogoti oleh berbagai kesenian atau media hiburan lain seperti organ tunggal, orkes dangdut, dan campur sari. Saat ini, kian sedikit orang yang bersedia memanfaatkan waktu luangnya untuk menonton atau berlatih Calung–atau barangkali manusia saat ini semakin tidak mempunyai waktu luang akibat terus terdesak kehidupan yang keras. Meski demikian, Calung tetap hidup meski dengan nafas yang kian pendek.
Cangkir mencoba menelusuri gema lirih gamelan Calung dan lenggok lemah para penarinya ke desa Karangputat, Kecamatan Nusawungu, Cilacap. Dulu, desa ini merupakan pusat kesenian Calung di Cilacap.
Baca entri selengkapnya »
& Komentar |
Bincang-bincang |
Permalink
Ditulis oleh buletincangkir
Mei 29, 2009
Izi Ibrahim
Pada sehat kabeh mbok ramane, biyunge, kakange, mbekayune, wane, like? Ya muga-muga pada sehat. Nek ana sing mriyang ya muga-muga cepet mari. Yuh pada didongakna, aja sue-sue mriyange. Wong genah siki apa-apa angel, apa-apa larang, nganggo antri maning. Jan wong arep tuku lenga latung ngarah mung limang liter bae be ndadak usel-uselan, antri dawane kaya sepur klutuk. Sidane blonge tek buwang. Repek! Repek! Repek maning bae yuh! Selek kencot! Nek ndadak antri ya segane ora mateng-mateng. Lha kae bocah-bocah arep mangkat sekolah ngringik disit njaluk sarapan. Ya mestine sarap disit, ben nang sekolahan mandan begar, ora ngantukan.
Lah iya koh. Sepisan maning, enggane ana sing mriyang ya melas banget yah. Jaman rekasa kaya kiye. Wong sing sehat be rasane nlangsa apa maning sing mriyang. Yuh pada ndonga. Gusti paringana sehat kabeh sedulur kula teng Banyumas. Amin.
Baca entri selengkapnya »
Leave a Comment » |
Kojahan |
Permalink
Ditulis oleh buletincangkir