Mei 29, 2009
Calung merupakan salah satu khazanah kesenian Cilacap dan sekitarnya. Pada masa lalu, kesenian ini pernah menjadi primadona yang dikenal luas dan bisa mengantarkan para pelakunya ke puncak-puncak popularitas dan materi.
Namun, pada masa-masa sekarang ini, alunan gending pengiring Calung kian lirih terdengar dan lenggak-lenggok para penarinya pun kian melemah, sementara popularitasnya kian tergerogoti oleh berbagai kesenian atau media hiburan lain seperti organ tunggal, orkes dangdut, dan campur sari. Saat ini, kian sedikit orang yang bersedia memanfaatkan waktu luangnya untuk menonton atau berlatih Calung–atau barangkali manusia saat ini semakin tidak mempunyai waktu luang akibat terus terdesak kehidupan yang keras. Meski demikian, Calung tetap hidup meski dengan nafas yang kian pendek.
Cangkir mencoba menelusuri gema lirih gamelan Calung dan lenggok lemah para penarinya ke desa Karangputat, Kecamatan Nusawungu, Cilacap. Dulu, desa ini merupakan pusat kesenian Calung di Cilacap.
Baca entri selengkapnya »
& Komentar |
Bincang-bincang |
Permalink
Ditulis oleh buletincangkir
Desember 30, 2008
Malam itu, tepat pada malam Nuzulul Quran, Cangkir berkunjung ke kediaman Kuswaidi Syafei. Meski sempat beberapa kali salah jalan, namun akhirnya Cangkir berhasil tiba di rumahnya yang tenang. Begitu tiba di depan pintu, sambutan ramah dari tuan rumah seolah menghapus rasa lelah. Kehangatan itu masih ditambah dengan secangkir kopi panas kebul-kebul yang menemani perbincangan kami sepanjang malam itu.
Kuswaidi adalah salah seorang penyair yang tenar karena puisi-puisi sufistiknya. Saking lekatnya julukan ini, sampai-sampai tema apapun yang ditulis dalam puisinya pasti diidentikkan dengan sufisme. Bait-bait puisinya, seperti diutarakan sendiri olehnya, disemangati oleh kerinduan, kerinduan terhadap kampung halaman rohani. Gemeretak jiwa yang selalu merindukan tempat di mana ia bermula. Dengan pengetahuan yang luas terhadap khazanah puisi sufistik, dari para penyari seperti Rumi, ia mengambil ruh dan spirit yang kemudian ia padukan dengan pelafalannya sendiri yang khas.
Baca entri selengkapnya »
Leave a Comment » |
Bincang-bincang |
Permalink
Ditulis oleh buletincangkir
Desember 30, 2008
Sosoknya biasa saja. Hidupnya amat bersahaja. Bicaranya tidak ndakik-ndakik. Namun kalau berbicara agama, terdengar teduh seteduh rumahnya di Tinggar Jaya, Jati Lawang, Banyumas. Tapi sebenarnya banyak hal yang tersimpan dalam sosoknya yang kecil. Banyak hal yang tidak biasa-biasa saja dalam diri Ahmad Tohari.
Karya-karyanya luar biasa, sudah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Pengalamannya juga luar biasa. Dari memancing di tepi kali di dekat rumahnya, sampai memancing perdebatan di kampus-kampus hingga Amerika. Ketajaman dan kedalaman pikirannya sangat mencengangkan. Filosofi dan prinsip hidupnya juga tak terbantahkan. Misalnya dalam berkarya, “Realita di dunia ini harus dibaca. Mana mungkin ada realita dinafikan begitu saja. Satu realita pasti sebuah ayat. Jadi tidak bisa tidak. Kalau kita mau iqro’, ya semua harus dibaca. Inilah realita, dan kamu akan memperoleh pelajaran darinya. Iqro’ Bismirobbika alladzi al kholaq.”
Baca entri selengkapnya »
Leave a Comment » |
Bincang-bincang |
Permalink
Ditulis oleh buletincangkir