Pengembaraan Filosofis Descartes


Rene Descartes (1596-1650) dikenal sebagai bapak filsafat modern, karena lewat pemikiran Descartes ilmu pengetahuan jadi seperti sekarang. Pengaruh pemikirannya luas hingga di luar bidang disiplinnya. Fisikawan Isaac Newton misalnya, mengaku dipengaruhi filsafat Descartes, terutama tentang realitas geometris yang terpilah-pilah. Atas dasar itu, mengenal pemikiran Descartes adalah salah satu cara mengenal dasar ilmu pengetahuan modern sekaligus mengenali diri sebagai subjek modernitas.

Dua pengembaraan

Descartes hidup pada zaman Pencerahan (Aufklarung), yaitu zaman yang menekankan manusia sebagai individu yang rasional, independen dan senantiasa mengembangkan potensinya. Pada zaman Pencerahan, segala bentuk kekuasaan yang mengekang individualitas ditinggalkan (misalnya Gereja), dan segala kebenaran ilmu pengetahuan dipertanyakan ulang, agar manusia menjadi tuan bagi diri dan dunianya, tidak menjadi hamba segala bentuk kekuasaan apalagi sekadar menjadi pendaur ulang kebernaran-kebenaran yang telah usang.

Descartes menjalani hidupnya dengan menempuh dua pengembaraan. Pertama, pengembaraan geografis. Dari tanah kelahirannya di Prancis ia mengembara ke Belanda, Jerman, Italia, kembali lagi ke Belanda dan kemudian mengabdikan diri pada ilmu pengetahuan di Paris. Kedua, pengembaraan intelektual. Descartes adalah seorang filsuf, ahli matematika dan memiliki pengetahuan yang baik tentang sastra, teologi, dan kemiliteran. Lewat filsafatnya, Descartes berusaha mencari sistem berpikir yang paling mendasar sebagai landasan baru bagi berbagai ilmu pengetahuan yang dijelajahinya seperti tertuang dalam karyanya, Meditatons.

Keyakinan dan keraguan

Berfilsafat berarti berpikir secara mendasar dan sistematis. Dibutuhkan metode berpikir agar seseorang dapat berpikir demikian. Tanpa bantuan metode, berfilsafat tidak lebih berpikir secara liar, tumpang tindih dan karena itu menyesatkan. Filsafat Descartes bermula dari pertanyaan “Adakah metode yang pasti sebagai basis berpikir filosofis?” Artinya, lewat filsafatnya Descartes bermaksud memenughi perlunya sebuah metode filsafat.

Bagi Descartes, metode dari segala metode adalah meragukan keberadaan segala sesuatu dengan memikirkannya secara jelas dan terpilah-pilah. Hanya apabila sesuatu dapat dipahami secara jelas dan terpilah-pilah dapat dijadikan norma menuju kepastian dan kebenaran filosofis. Adakah huruf yang kita baca ini nyata adanya? Ia nyata karena kita memiliki mata untuk membacanya, atau karena terdapat cukup cahaya sehingga huruf-huruf itu menampakkan adanya bagi kita, atau huruf-huruf itu ada karena dirinya sendiri? Bagaimana dengan planet, atom, negara, dan juga Tuhan?

Jika segala sesuatu dapat diragukan (dipikirkan, dipertanyaakan) secara radikal (dari kata radic, berarti akar), terdapat satu hal yang harus diyakini keberadaannya, yaitu, “keberadaan bahwa aku yang meragukan segala sesuatu ini ada!” Jadi, orang bisa menyangkal segala sesuatu, tapi tidak bisa menyangkal dirinya sendiri. Dari sanalah Descartes berseru “Aku berpikir maka aku ada!” (Cogito ergo sum!). Hakikat manusia terletak pada kesadarannya (res cogitans), yakni kemampuan untuk berpikir, meragukan dan memahami segala sesuatu secara jelas dan terpilah-pilah.

Dua langkah berpikir

Meragukan secara radikal dalam filsafat Descartes diarahkan pada dua wilayah, yaitu “ke dalam” (pada subjek yang meragukan atau berpikir) dan “ke luar” (yaitu alam dunia yang diragukan atau objek yang dipikirkan). Wilayah yang pertama adalah dasar bagi yang kedua dan bukan sebaliknya, sebab seperti kata Descartes, segala sesuatu dapat diragukan kecuali diri sendiri.

Ketika segala sesuatu dapat diragukan dan disangkal, kita mesti mencari kebenaran dalam diri kita sendiri. Kata Descartes, dalam diri manusia terdapat tiga ide bawaan (ideae innatae) yaitu (1) ide pemikiran (cogitans): karena kita memahami diri sebagai makluk yang berkesadaran (rasional), maka kita mutlak menerima kesadaran atau pemikiran sebagai hakikat diri, (2) ide ketuhanan (dues): dalam berpikir kita tentu tidak mampu mencapai kesempurnaan, dan karena itu kesempurnaan bukan berasal dari kita melainkan dari sosok yang oleh Descartes disebut Tuhan, (3) ide keluasan (extentio): segala sesuatu di sekitar kita dapat dipahami menurut satuan geometris (luas, panjang, lebar, tinggi, besar), hal itu menunjukkan bahwa manusia memiliki ide keluasan.

Bertolak dari langkah pertama di atas (ke dalam), Descartes melangkah menuju yang kedua (ke luar), yaitu alam dunia seluasnya. Dalam merenungkan alam dunia seluasnya, Descartes sampai pada kesimpulan tentang adanya tiga substansi (kebenaran yang berdiri sendiri), yaitu (1) Tuhan, (2) Jiwa yang hakikatnya adalah pemikiran, dan (3) Materi yang hakikatnya adalah keluasan. Masing-masing substansi ada sebagai dirinya sendiri, tidak saling bergantung atau mengandaikan.

Karena Descartes telah meragukan segala sesuatu di alam dunia ini kecuali kesadaran diri (cogitans), ia tak menemukan kepastian fiolosofis pada alam dunia yang dipikirkan secara terpilah-pilah menurut ilmu ukur (geometri). Dalam menghadapi masalah ini, Descartes menyerahkannya kepada Tuhan sebagai pemilik kesempurnaan. “Tuhan tidak mungkin menipu saya,” kata Descartes, Jadi, filsafat Descartes bergerak dari kesadaran diri (pemikiran atau rasionalitas), menuju Tuhan sebagai penjamin kebenaran, kemudian terarah pada alam dunia seluasnya.

Dua catatan kritis

Menyimak paparan di atas, filsafat Descartes memiliki sejumlah kelemahan yang patut dicatat. Pertama, jika Descartes mengatakan bahwa Tuhan, jiwa dan materi sebagai substansi (kebenaran yang berdiri pada dirinya sendiri), lalu kenapa masing-masing membangun hubungan logis yang saling mengandaikan? Misalnya jiwa yang substansinya adalah pemikiran dan materi yang substansinya adalah keluasan harus menggantungkan kepastiannya kepada Tuhan.

Kedua, jika Descartes mengatakan bahwa subjek yang berpikir/meragukan adalah pasti, lalu kenapa kegiatan berpikir atau meragukan tidak pasti? Jika aku pasti adanya, kenapa apa yang kulakukan tidak sama pastinya? Lalu bagaimana dengan hasil kegiatan berpikir atau meragukan itu, selain kesimpulan-kesimpulan yang lebih meragukan lagi? Dercartes meminta Tuhan untuk memberikan jaminan kepastiastian. Tapi bagaimana manusia modern mampu menjadi individu yang otonom dan rasional jika masih menggantungkan diri kepada Tuhan?

Dua hal di atas menunjukkan adanya logika yang tidak konsisten dalam filsafat Descartes, sekaligus menunjukkan adanya krisis dalam diri manusia modern yang di satu sisi bercita-cita menjadi individu rasional yang otonom, di sisi lain dihantui perasaan skeptis (keraguan) dan kontradiksi dalam sistem filsafatnya. Namun demikian, apa yang dilakukan Descartes telah membuka pintu bagi filsuf dan ilmuwan lain sehingga manusia mencapai ilmu pengetahuan seperti yang dikenal sekarang. (redaktur/icol)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: