Tradisi dan Modernitas: Bincang-bincang dengan Nasirun


nasirunNasirun adalah pelukis kelahiran Doplang, Kecamatan Adipala, dan termasuk perupa yang diperhitungkan pada tingkat nasional dan regional. Karya-karyanya adalah usaha menafsir ulang seni tradisi (terutama wayang) dengan melakukan distorsi anatomi para tokohnya dan mengevaluasi struktur nilainya. Tak jarang, interpretasi itu dikaitkan dengan masalah sosial-politik yang sedang aktual dengan sentuhan humor dan ironi yang kental.

Usaha tersebut membuahkan lukisan yang unik dan bernas, dan mendapatkan penghargaan Philip Morris Award dan Affandi Adi Karya, di samping aktif berpameran di dalam dan luar negeri. Dan meski lukisannya diburu kolektor dengan harga mencapai ratusan juta rupiah, ia tetap hidup bersahaja; rajin menyapu pekarangan, merawat pohonan, dan tidak menggunakan hand-phone karena dianggap rumit dan boros.

Berikut petikan bincang-bincang antara Faisal Kamandobat dari Cangkir dengan Nasirun, untuk mengorek alam pikiran di balik rambutnya yang gondrong dan tawanya yang sangat keras layaknya suara traktor.

Sejak kapan Anda mulai melukis?

Diawali menggambar di waktu kecil. Pada 1983 saya belajar membatik dan mengukir di SSRI (Sekolah Seni Rupa Indonesia). Lalu 1987 masuk jurusan seni murni di ASRI (Akademi Seni Rupa Indonesia) Jogja. Tapi kuliah di ASRI hanya mengerjakan tugas-tugas dari dosen. Baru pada 1991 terjadi akumulasi kesadaran bahwa seni lukis adalah profesi saya.

Seberapa yakin Anda memilih seni lukis

dan bukan membatik meski lebih menjanjikan secara finansial?

Tidak ada pertimbangan. Natural saja. Kerja membatik, meski dengan nominal yang rendah sekali, itu merupakan sarana belajar melukis. Seni murni sebagai pilihan hidup merupakan rahmat Tuhan yang harus dipupuk dan dijaga dengan bekerja keras untuk mendorong keyakinan mempelajarinya. Seni lukis sebagai kebanggaan mendorong saya bekerja apa saja demi melegitimasi bahwa inilah (seni murni) jalan yang saya pilih.

Melihat tema-temanya, lukisan Anda dekat dengan wayang dan cerita pedesaan. Bagaimana Anda membawa dunia lama Anda ke ranah seni modern?

Jualan tradisi sesungguhnya tidak mudah. Ketika remaja saya berinteraksi dengan kesenian wayang, lengger, karena saat itu belum ada kesenian modern. Ada tanggung jawab moral pada bangunan tradisi ini; saya ingin berpartisipasi walau hanya memberi “satu bata” demi membangun tradisi baru yang memberi kekayaan pada seni tradisi.

Seberapa jauh seni tradisi memberi sumbangan pada seni modern?

Karena basisnya tradisi, untuk masuk wilayah modern atau posmodern agak susah. Para maestro seperti Affandi, Sudjojono, Hendra Gunawan, dari dulu mencari bentuk seni rupa Indonesia. Tapi ketika lahir di Timur, orang Barat tidak lantas menyebutnya tidak modern. Timur tetap Timur. Timur memberi keseimbangan pada seni Barat. Eropa menjadi mengerti bahwa di Timur pun ada kesenian. Yang dibanggakan Sudjojono, di Timur kegiatan melukis sudah terjadi sejak jaman relief candi, bahkan di gua-gua pada abad primitif. Jadi, seni tradisi di Timur memberikan satu keseimbangan pada seni modern yang tumbuh di Eropa.

Adakah seni termasuk kodrat manusia?

Menyebut kata kodrat, kan agama agamaning budhi. Ya, manusia minimal berbudaya. Kalau kambing tidak katokan (bercelana) tidak masalah. Wong tidak kenal kebudayaan. Sebagai manusia ya harus tahu, punya selera, berbudaya.

Anda mengoleksi karya seni tradisional Banyumasan. Dalam bentuk apa saja itu?

Lesung, dayung, wayang Banyumasan, lukisan kaca, lukisan Sokaraja. Begini, saya hanya punya sedikit dana dan itu saya gunakan sebagai zakat budaya. Nantinya akan ke mana saya tidak tahu, saya tidak mau gege mongso kersane gusti, tapi yang jelas itu sumber inspirasi, artifak-artifak itu, jelas hasil cipta karsa para pendahulu kita.

Apa yang perlu dilakukan pemerintah yang lebih bertanggung jawab terhadap hal itu dan bukan hanya tanggung jawab perorangan seperti Anda?

Ketika menggalang reformasi ini, Gus Dur bilang 150 tahun kemudian reformasi baru berjalan. Berjalannya sebuah reformasi itu berjalannya peradaban umat manusia. Jadi sekarang ini tekanannya bukan pada pemerintah, masyarakat pun harus memiliki kepedulian-kepedulian. Itu dulu dimulai. Ketika kita minta kepada pemerintah, nanti hanya diamanatkan pada presiden….

Seberapa jauh peran keluarga terhadap Anda sebagai seniman?

Mungkin pada tahun 2007 ketika seorang anak minta sekolah di kesenian orang tua masih ragu. Karena tidak menjanjikan penghasilan bagus. Tapi masalahnya, bisa tidak kita membuktikan kepada keluarga. Ini adalah kegilaan. Orang tua kerja, lalu anak menghambur-hamburkan uang. Kalau kita dapat membuktikan bahwa kita mampu, keluarga akan memberi dorongan. Sebagai ilustrasi, tahun 1983 untuk bisa mendapatkan uang sebanyak 70 ribu saya harus menjual pintu. (itu semua untuk bekal sekolah) di ASRI (yang) baru selesai tahun 1994. Alhamdulillah. Kalau dipikir-pikir, sebelas tahun dengan 70 ribu itu tidak masuk akal. Tapi ternyata Tuhan itu kaya. Berani nggak sekarang seseorang membuktikan diri pada keluarganya, barangkali sekarang, pada masyarakat. Ini tidak hanya di kesenian tapi profesi apapun. Tapi yakinlah selama kita benar.

Anda bermain di kesenian pada lingkup yang luas, nasional, bahkan regional. Bagaimana Anda melihat seniman Indonesia dalam lingkup luas dengan Cina, Jepang, misalnya?

Pemerintah Cina kan kaya. Tapi saya pikir dulu Soekarno itu pelopor. Makanya, lahir enam jilid koleksi lukisan Soekarno. Itu adalah dasar yang bagus. Presiden kita peduli pada kebudayaan sehingga paling tidak para bawahannya pun memiliki kepedulian. Cina dan Jepang sudah sampai pada tataran kesadaran berbudaya karenanya negara itu kaya. Menurut Agus Darmawan, seratus ribu seniman Cina ini kalau kungfunya sudah maut mereka akan beredar di seluruh dunia dan pemerintah akan mendampinginya, memberikan satu dorongan. Tapi dengan syarat kalau kungfunya sudah maut, dan itu tidak hanya di kebudayaan tapi di level manapun. Lha, kungfu kita tidak pernah maut, malah sia-sia kalau pemerintah mendorong. Itu berbahaya, itu mentalitas kita. Jadi pas. Nah, Soekarno itu tokoh besar, kedubes dibikin besar, dan jika ada dubes masuk ke Indonesia di situ dipamerkan keragaman budaya kita, dari tari-tarian, patung, lukisan, dll. Otomatis terjadi interaksi budaya. Muhibah orde lama itu sampai ke Malaysia dan Singapura. Bahkan, Basuki Abdullah jadi duta besar tanpa titel yang dikirim sebagai pelukis ke Kerajaan Thailand bahkan Belanda. Affandi, bahkan sampai ke Eropa dan India. Di sana ia tampil sebagai ikon Indonesia. Dunia mengakui. Dan memberikan kontribusi terhadap bangsa ini. Itu bagus sekali.

Latar belakang Anda santri. Biasanya ada pandangan agak minor terhadap seni. Bagaimana Anda mengatasinya?

Saya ini santri ucul-lah. Untuk meyakini akidahnya, saya mengambil sisi keindahan Tuhan. Mungkin bagi almarhum ayah saya zikir adalah sarana mencari jalan Allah. Dengan kuas itulah, mungkin, zikir saya. Jadi hanya beda cara. Allah maha segala-segalanya. Diawali senang, ada esensi ke ikhlas, nanti akan terasa dalam karyanya. Ada proses transenden, ada proses untuk mendekatkan diri. Pada dasarnya saya ini tetap santri, hanya ucul dari pondok.

2 Balasan ke Tradisi dan Modernitas: Bincang-bincang dengan Nasirun

  1. harry rey mengatakan:

    karyamu apik mas,tapi lebih apik lagi jiwamu,hatimu penuh dengan kesederhanan.
    trimakasih mas nasirun sudah menyempatkan waktunya untuk saya.pertemuan kemarin suatu ke banggaan buat saya
    insya ‘allah’ saya akan berkunjung kembali ke rumah anda

  2. Mus-Glempang Kalikudi mengatakan:

    Salute banget Mas,,,Wah dadi kemutan crita-critane seniorku nang Glempang Kalikudi,,,tentang mas Nasirun. Pernah sekolah nang Madrasah Ibtida’iyah Kalikudi,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: