Gerimis 1


Sigit Emwe

jejak ini telah memutih, meniti ayat yang berterbangan

hingga langit 

saat seekor merpati melintas pada lengkung matamu

jejak semakin memutih, tersamar pada sajadah jiwa

yang sujud pada kematian

 

masihkah daun melekat pada tangkai

saat gerimis jatuh pada teritis-teritis waktu?

tak ada yang sanggup memberi jawab

selain sebait salam dari langit

 

jejak berjalan mengikuti angin

memburu pipit yang hinggap pada daun manggis

matahari tinggal panasnya

cahaya memanggang jiwa

 

aku masih di sini meniti

jejak yang semakin menguban

 

: jejak pun menjadi sajak

  yang kau lukiskan pada

  tapak-tapak putih

 

Purbalingga, Bilik Lentera November 2007

 

Sigit Emwe adalah penyair yang tinggal di Pubalingga. Karya-karyanya telah banyak terpublikasi melalui Wawasan, Suara Merdeka, Suara Karya, Suara Pembaruan, Kedaulatan Rakyat, Minggu Pagi, Solo Pos, Bernas Jogja, Sabbili, Radar Banyumas, Koran Rakyat dan beberapa lagi. Juga telah diantologikan dalam buku “Untuk Sebuah Kasih Sayang” (Puisi), “Robingah, Cintailah Aku” (cerpen).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: