Komunitas Film SMU 1 Cilacap


Sungguh sesuatu yang membanggakan bagi SMAN 1 Cilacap karena empat film garapan siswa-siswanya diikutsertakan dalam ajang a Court de’ecran : Courts-Circuit yang digelar oleh CCF “Centre Culturel Francais” atau Pusat Kebudayaan Prancis, 5-6 Oktober 2007.

Tepat sehari sebelum gelaran tersebut, atau tanggal 4 Oktober 2007, 18 orang siswa SMAN 1 Cilacap berangkat ke Jakarta dengan membawa empat film garapan mereka; ”Putih? Cantik?” (dokumenter), ”Pacaran: Penting Nggak Sih?” (dokumenter), ”Hidup Untuk Makan atau Makan Untuk Hidup” (dokumenter), dan ”Estu” (Fiksi).


Menurut manual acara dari panitia, gelaran ini akan dihadiri oleh beberapa komunitas lain di antaranya adalah KINOKI dari Jogjakarta, Konfiden, Hello Motion, Boemboe, dan Urbanimation dari Jakarta. Selain berlomba, komunitas-komunitas ini diundang untuk turut meramaikan sesi Temu Komunitas yang akan diisi dengan diskusi seputar perfilman Indonesia.

Hajatan pemutaran film yang lumayan besar ini adalah agenda tahunan CCF yang diselenggarakan setiap bulan Oktober. Selain memutar film-film karya sineas profesional, panitia juga menyelenggarakan sesi khusus untuk memutar film-film karya pelajar. Tahun ini, CCF memberikan kesempatan pada para pelajar Cilacap dan Tangerang untuk memutar karyanya dalam festival ini.

Kurator film CCF, Dimas Jayasrana, mengatakan, ”semula kami akan memilih film karya pelajar Jakarta, tapi begitu melihat karya pelajar dari Tangerang dan Cilacap, karya dari Jakarta justru tidak jadi kami putar,” katanya. Menurut Dimas, karya para pelajar dari Tangerang dan Cilacap dipilih karena mampu membingkai lingkungan sosial secara luas tanpa meninggalkan kewajaran remaja. ”Melalui film, kami melihat hasrat besar anak-anak Cilacap untuk menggali karakter mereka sebagai anak Cilacap, dengan bahasa Cilacap, dengan logika yang juga khas Cilacap,” imbuhnya. Film-film ini sendiri akan diputar di Kineforum, Taman Izmail Marzuki (TIM), dengan bekerja sama dengan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Dimas yakin jika karya para pelajar tersebut akan mendapat sambutan publik.

Di luar dugaan, rombongan anak-anak Cilacap disambut dengan antusias dan hangat oleh para pegiat film yang menghadiri acara tersebut. Malah, banyak dari mereka yang mengajak diskusi karena ingin mengetahui perkembangan film di daerah. Diskusi dadakan pun digelar di ruangan Galeri Cipta II TIM Jakarta. Obrolan santai di luar acara resmi CCF ini diisi dengan omong-omong seputar perkembangan film di daerah, tukar pikiran mengenai cara mengemas film yang baik, dan curhat tentang manajemen distribusi film yang rapi sehingga film-film yang telah digarap bisa dinikmati seluruh masyarakat Indonesia.

Dalam diskusi ini terungkap bahwa sebagian besar pelajar ingin karyanya bisa dinikmati oleh masyarakat luas tanpa mau memikirkan muatan dan pesan karya mereka. Sebenarnya, hal tersebut mudah dilakukan, namun proses instan ini akan berefek buruk pada perkembangan kreativitas mereka.

Hal seperti itu dilontarkan Ade Putra, salah seorang siswa SMAN 1 Cilacap. “Kalau saya sendiri tidak ingin terburu-buru. Yang penting bagaimana cara agar film yang saya buat bisa maksimal. Masalah film akan ditonton oleh siapa dan di mana, itu urusan nanti,” katanya. Bagi Ade, karya adalah nomor satu. Dari sinilah ia menarik kesimpulan “Kalau karya yang kita buat dirasa sudah cukup baik, kita tidak akan merasa bingung atau khawatir untuk menyuguhkannya kepada masyarakat luas. Ini karena kita sudah punya konsep yang kuat untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mungkin akan keluar dari beberapa orang yang telah menonton karya kita.”

Banyak hal positif mereka dapatkan dari lawatan beberapa hari di Jakarta ini. Pengetahuan teknis perfilman, manajemen perfilman, dan relasi, adalah beberapa contohnya. Setelah lumayan kenyang dengan berbagai pengalaman baru, para pelajar ini berencana menyelenggarakan road show pemutaran film dari kampung ke kampung. Selain agar karya mereka bisa dinikmati oleh publik yang lebih luas, melalui program ini mereka juga ingin menunjukkan pada masyarakat luas bahwa mereka bisa membuat sesuatu yang berarti untuk bangsa ini. Niatan ini tumbuh dari keprihatinan terhadap kehidupan yang kian hari kian dipengaruhi oleh acara-acara televisi yang sering kali hanya memiskinkan moralitas dan kapasitas kemanusiaan bangsa Indonesia. Contoh riilnya barangkali adalah sinetron, yang semakin lama semakin merasuki pola pikir masyarakat Indonesia.

Selain pemutaran film dari kampung ke kampung, para pelajar ini juga ingin menggelar talk show dan presentasi film melalui radio agar pesan mereka dapat tersampaikan. Dalam talk show tersebut, menurut mereka, akan dijabarkan proses kreatif, tujuan dan maksud karya, serta kesan dan penilaian mereka terhadap perkembangan perfilman di tanah air dan imbasnya pada kehidupan masyarakat di daerah kecil. Semoga itikad baik ini mendapat dukungan dari berbagai pihak sehingga bisa menginspirasi anak muda-anak muda Cilacap yang lain.

Satu Balasan ke Komunitas Film SMU 1 Cilacap

  1. nanang mengatakan:

    enjoy aja……..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: