Pameran Foto Majenang


Para pecinta seni dan budaya dari Cilacap Barat yang tergabung dalam komunitas Genesis menggelar pameran foto dan diskusi. Kegiatan yang mengangkat tema ‘Majenang dalam jepret kamera pocket’ ini diadakan di gedung sekretariat Majenang Tiger Club (MTC), Jl. Kapten Suyono Majenang, berlangsung pada 22-24 Februari.

Haryadi (Radar Banyumas) dan Khalid Yogi (Suara Merdeka)–wartawan di Cilacap Barat- menampilkan beberapa koleksi fotonya. Pameran juga diisi dengan pentas budaya oleh para pecinta seni dan budaya wilayah Majenang dan sekitarnya. Peluncuran buku tehnik informatika oleh Fathul Aminudin Azis turut meramaikan acara ini.


Pandangan karya foto dari sisi sosial budaya menjadi sorotan Syaiful Mustangin. “Dari foto yang ditampilkan, kita dapat menyentuh sisi sosial budaya di lingkungan masyarakat setempat,”. Salah satunya tergambar pada foto pemulung yang berjudul ‘seperak uang jajan dari tumpukan sampah’. Diterjemahkannya foto itu sebagai cerminan lemahnya kondisi ekonomi dalam masyarakat.

Foto pendukung berbagai macam parpol dalam kampanye, berjudul ‘pilihanku’. “Foto ini mencerminkan demokrasi yang sedang berjalan di era Reformasi,”. Namun dalam kenyataannya, fungsi parpol sebagai penampung aspirasi rakyat justru tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan.

Insan Indah Pribadi, sineas asal Cilacap menilai foto dari sisi jurnalistik. “Foto dapat memberi pesan tentang sebuah momentum/kejadian dengan lebih jelas dan tajam,”. Oleh karenanya, foto jurnalistik di suatu media bisa sangat berpengaruh dalam kehidupan masyarakat.

Ketua panitia pameran, Masngudi SS mengatakan, pameran ini bertujuan untuk lebih mengenalkan wilayah Majenang dan sekitarnya melalui karya foto. “Kita coba menggali apa saja yang ada di wilayah Majenang raya ini melalui foto yang dipamerkan,” katanya.

Menurutnya, seni foto bisa menggambarkan segala kondisi yang ada di daerah tersebut. Pengunjung dapat leluasa menginterpretasikan karya foto yang diambil dari berbagai segi kehidupan ini. “Pengunjung dapat menangkap pesan dari foto yang ‘berbicara’,” terangnya.

Sementara itu, Camat Majenang, Heru Susedyono S.Sos M.Si menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan ini. “Kegiatan ini bagus bagi masyarakat terutama pelajar untuk membangun kecintaan terhadap potensi lokal,” katanya. Oleh Karenanya, kegiatan ini perlu dikembangkan agar mereka dapat lebih memahami daerah mereka sendiri.

Termasuk dalam rangkaian acara pameran foto juga berlangsung diskusi sastra di mana genre seni ini belum banyak menemukan ajang aktualisasi untuk pengembangan kreatifitasnya. Padahal, banyak sekali masyarakat yang berminat merangkai kata-kata indah dalam berbagai bentuk seni sastra. Bahkan, beberapa di antaranya telah menelurkan karya.Namun, rangkaian kata-kata indah itu hanya tersimpan dan terpendam begitu saja di rumah mereka. Minimnya ajang aktualisasi ditengarai menjadi penghalang berkembangnya seni ini.

Masngudi SS mengatakan, ketiadaan media penyalur aktualisasi seni sastra menyebabkan kreatifitas seni ini seakan-akan terhenti. Hal ini dibuktikan dengan minimnya kegiatan pengembangan seni sastra di masyarakat.

Seperti halnya diucapkan Bambang HS, budayawan asal Wanareja, “Puisi merupakan pesan-pesan yang ditulis indah dan muncul dari hati untuk kepuasan penulisnya”. Namun, ketika tidak ada ajang aktualisasi atau media untuk menyalurkan pesan tersebut, motivasi untuk berkreasi lama-kelamaan akan terkikis habis.

Tengoklah Majenang dan sekitarnya yang mempunyai kekayaan bahasa, dari Sunda, Jawa, hingga bahasa ngapak-ngapak khas Banyumasan. Apabila diolah dalam bentuk seni sastra, maka menjadi suatu karya yang sangat unik.

“Beberapa karya hanya ditinggal begitu saja di rumah karena tidak tahu bagaimana menyalurkannya,”lanjut Masngudi. Begitu pula dengan karya para siswa sekolah, belum menemukan ajang aktualisasi. Tak berbeda jauh ketika mutiara-mutiara kata mengudara. Gono, penyiar radio Suma FM mengungkapkan, acara pembacaan puisi di radio cukup mendapat tanggapan positif remaja. Namun, sebagian besar karya mereka bertemakan cinta.

Komite Sastra Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Badrudin Emce sependapat bahwa seni tersebut memerlukan ruang untuk beraktualisasi dan berkembang. Oleh karenanya, pihaknya bersama para pecinta seni dan budaya yang tergabung dalam Tjlatjapan Poetry Forum menerbitkan buletin bernama Cangkir.

Buletin tersebut menghimpun kumpulan karya seni dan budaya dari para seniman dan budayawan, agar karya mereka menemukan media aktualisasinya. “Kita mulai dari Cilacap dan Banyumas dulu, kelak kita berharap buletin ini dikenal luas di Indonesia,” harapnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: