Kerinduan Terhadap Kampung Halaman Rohani


Malam itu, tepat pada malam Nuzulul Quran, Cangkir berkunjung ke kediaman Kuswaidi Syafei. Meski sempat beberapa kali salah jalan, namun akhirnya Cangkir berhasil tiba di rumahnya yang tenang. Begitu tiba di depan pintu, sambutan ramah dari tuan rumah seolah menghapus rasa lelah. Kehangatan itu masih ditambah dengan secangkir kopi panas kebul-kebul yang menemani perbincangan kami sepanjang malam itu.

Kuswaidi adalah salah seorang penyair yang tenar karena puisi-puisi sufistiknya. Saking lekatnya julukan ini, sampai-sampai tema apapun yang ditulis dalam puisinya pasti diidentikkan dengan sufisme. Bait-bait puisinya, seperti diutarakan sendiri olehnya, disemangati oleh kerinduan, kerinduan terhadap kampung halaman rohani. Gemeretak jiwa yang selalu merindukan tempat di mana ia bermula. Dengan pengetahuan yang luas terhadap khazanah puisi sufistik, dari para penyari seperti Rumi, ia mengambil ruh dan spirit yang kemudian ia padukan dengan pelafalannya sendiri yang khas.


Meski kini ia telah jarang menulis puisi, namun dunia sufistik tidak benar-benar ia tinggalkan. Sesuai dengan minat dan kecenderungannya, kini ia menjadi pengajar mata kuliah sufisme di Universitas Islam Indonesia Yogyakarta. Berikut ini adalah bincang-bincang dengan Kuswaidi Syafei mengenai dunia perpuisian, khususnya puisi sufistik, di Indonesia.

Sejak kapan Anda berkenalan dengan sastra?

Saya dulu kuliah di filsafat. Filsafat itukan sejarah pemikiran. Dan karena wilayah pikir dalam diri manusia itu memiliki batasan, maka kekurangan ini bisa kita lengkapi dari wilayah lain. Inilah yang membuat saya tertarik pada sastra. Dalam sastra itukan ada hal-hal yang tidak kita dapatkan di wilayah lain yang bisa memberikan ketenteraman tersendiri. Meski kadang tidak semuanya kita pahami.

Dilihat dari sini Anda berkenalan dengan sastra dengan sangat sadar. Sebelum saat ini, mungkin dari masa kecil, adakah yang membentuk Anda untuk mencintai sastra?

Kalau dalam proses sastra itu saya rasa tidak. Tapi kalau wilayah-wilayah kesenian lain mungkin ya. Dulu saya malah lebih banyak menekuni kitab-kitab kuning, kitab-kitab fikih.

Di mana itu mas?

Di pesantren Sumenep. Sebelumnya saya tidak memiliki gambaran bahwa saya akan bergelut di dunia sastra.

Padahal kalau tidak salah kitab kuning itukan tidak jauh-jauh dari sastra?

Kalau di kitab-kitab kuning sastra lebih sebagai media. Bentuknya sastra tapi isinya bisa apa saja. Bisa fikih, tata bahasa, tauhid, dan sebagainya. Jadi sastra hanya sebagai media. Inilah salah satu kekayaan sastra Arab. Kalau sastra Indonesia lain. Sekali ngomong sastra, itu akan menjadi suatu lingkaran besar dan bisa disebut tunggal. Semuanya itu nyampur. Kalau dalam sastra Arab, pengajaran tata bahasa pun menggunakan media sastra.

Bagaimana tentang perkembangan sastra sufi di Indonesia?

Itu masih umum dan sangat longgar. Apa saja bisa dimasukkan. Saya, misalnya, menulis puisi tentang perempuan pasti dikira para kritikus ini sufistik. Karena saya yang menulis. Karena masih nyampur itu tadi.

Jadi masih melihat siapa yang menulis belum dilihat muatannya?

Iya. Karena longgar itu tadi maka bisa diposisikan di mana saja. Misalnya dalam puisi ini (sambil membaca sebuah sajaknya) saya terang-terangan menyebut nama seorang perempuan. Tapi oleh para kritikus tetap dilihat sebagai puisi sufistik.

Kemunculan sastra sufistik di Indonesia itu lebih karena apa?

Perkembangan ini saya kira lebih banyak dipengaruhi oleh gemuruh media. Dulu kan juga pernah di tahun 80-an. Masih diperlukan pengkajian terhadap realitas teks itu sendiri karena longgar itu tadi. Tidak hanya kritikusnya yang longgar tapi sastrawannya sendiri juga longgar. Beda dengan Hamzah Fansuri yang sufistiknya kental. Sufistiknya real (membacakan salah satu puisi Hamzah).

Bagaimana dengan para sastrawan sufistik sekarang pada umumnya?

Sama saja. Kecuali kalau memang dengan bahasa yang cukup verbal. Itu baru bisa dipilah secara real. Kalau tidak ya tidak. Karena longgar itu tadi. Diverbalkan itu tidak lantas mendangkalkan makna.

Seperti puisi-puisi Chairil Anwar itu bagaimana?

Kalau dia kuat. Kalau penyair yang sekarang kan banyak yang tidak menemukan kekuatan makna di tingkat verbal lantas berlindung di balik idiom-idiom spekulatif.

Idiom spekulatif?

Ya apalah…menyebut langit atau apalah yang sebenarnya filosofinya tidak jelas. Idealnya orang itu berfilsafat dulu baru berpuisi sehingga puisinya matang. Walaupun berfilsafat itu ada dua. Berfilsafat dengan memahami sejarah dan aliran-alirannya. Atau kalaupun tidak begitu minimal ada kekuatan filosofis sebelum teks ditulis. Sebab hidup itukan ada hikmahnya, ada filosofinya, yang hanya bisa diperoleh dengan permenungan yang kuat. Jika dua hal ini tidak dimiliki, puisi seperti apa yang bisa diandalkan? Filosofi nggak ada, hidup nggak ada. Penyair seperti Zawawi barangkali tidak belajar filsafat secara formal, tapi setiap orang bisa mengetahui ide filosofis di balik puisinya. Karena itu bahan minimal sebenarnya. Terbuktikan banyak penyair yang tidak bisa menjelaskan puisinya sendiri. Itulah yang saya katakan sebagai berlindung di balik idiom spekulatif. Ada kecenderungan kata-kata sekedar dijejer-jejer, tidak ingin mengedepankan ide apa. Sekedar mengutarakan warna dan gambar. Ini lebih ambyar lagi.

Bagaimana dengan penyair seperti Sutardji yang kata orang cenderung mengedepankan bunyi?

Ya tapi Sutardji ini tidak hanya mengedepankan bunyi tapi juga ada filosofi di baliknya. Misalnya, puisi berikut berapa banyak abad lewat//berapa banyak arloji pergi//untuk sampai kepadamu? Ini mendalam saya kira. Abad, lewat. Arloji, pergi. Abad itukan berkaitan dengan perjalanan waktu sedangkan arloji berhubungan dengan pengukur waktu. Lebih bagus begini daripada hanya menggunakan idiom spekulatif, apa yang kira-kira pembaca nggak paham.

Kalau tradisi sastra (puisi) sufistik Indonesia sendiri?

Menurun sebenarnya, kalau tonggaknya Hamzah Fansuri. Baik dari segi bentuk maupun isinya. Dari segi bentuk, puisi-puisi modern itu apa makna puisi modern. Kata-kata dijejer menyamping dan sebelum penuh pindah ke bawah. Sekedar persoalan tipografi. Coba kalau Hamzah Fansuri itu bentuknya kan bagus. Ada jalinan antara kekuatan rima dan makna. Itu tidak hanya enak didengar. Yang kedua, pijakan Hamzah Fansuri itu jelas. Rujukan ke Quran dan hadisnya jelas tidak semata-mata khayali. Itu merupakan kekuatan tersendiri.

Padahal kan banyak juga penyair sekarang yang ungkapan religiusnya cukup verbal?

Iya. Cuma modelnya itu kayak terpotong-potong. Tapi ya bagus. Coba seperti Rumi. Itu kitab matsnawi (antologi puisi Jalaludin Rumi) enam jilid (sambil menunjuk rak buku di ruang tamunya) ada 26 ribuan bait utuh dan stilnya juga begitu dengan kedalaman acuan yang tak terbantahkan. Nah seperti itu loh.

Berbicara mengenai puisi Anda sendiri, apa ide besar yang melatarinya?

Mungkin kerinduan. Kerinduan kepada kampung halaman, tapi kampung halaman rohani. Kita berada di dunia inikan sebenarnya terdampar dan dituntut untuk mencari kampung halaman rohani.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: