MENEMUKAN LEGENDA PRIBADI


Alkisah, Santiago seorang bocah petani di Spanyol, mengubah hidupnya dari seorang petani miskin menjadi seorang gembala domba demi untuk memenuhi keinginannya berkelana melihat daerah-daerah lain di luar kampungnya. Kisah berjalan, petualangan Santiago membawanya kian jauh dari kampung halaman. Makin jauh ia berjalan, makin banyak pengalaman yang ia peroleh, hingga suatu saat ia mengetahui satu hal yang sangat penting bagi hidupnya: legenda pribadi. Ini adalah semacam konsep tentang harta paling berharga milik seseorang. Dan, dibutuhkan upaya keras untuk mendapatkannya. Tergoda menemukan legenda pribadinya, Santiago mengubah dirinya dari seorang penggembala pengembara menjadi seorang pengembara murni.

Ia kemudian menjual dombanya, mengembara menyeberang lautan, melintasi gurun, dan menempuh berbagai kesulitan dengan membawa satu keyakinan bahwa alam semesta akan membantu setiap orang yang bersungguh-sungguh mewujudkan keinginannya. Namun setelah berbagai petualangan dijalani, ternyata legenda pribadi– harta terbesar yang dicarinya–justru berada di kampung halamannya sendiri: di bawah pohon sikamor di sebuah biara tempat ia bersekolah di masa lalu.

Bagi yang belum membaca, kisah di atas adalah kutipan dari novel Sang Alkemis karya Paolo Coelho, seorang penulis Brasil. Dalam konteks sekarang, legenda pribadi barangkali bisa diartikan sebagai kepemilikan atas faktor-faktor ekonomi, karier, jabatan, atau bentuk-bentuk semacam itu yang berujung pada kesejahteraan. Sementara petualangan barangkali bisa diartikan sebagai merantau demi mengakumulasikan pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh dari berbagai wilayah yang kemudian diintegrasikan menjadi karakter dan pandangan hidup.

Pergulatan Antara Imajinasi dan Realitas

Entah sejak kapan meninggalkan kampung halaman dianggap sebagai salah satu cara untuk mewujudkan cita-cita dan impian–sebagai cara yang paling mungkin–hingga kemudian menjadi tradisi umat manusia. Tradisi ini terus hidup, mengalami modifikasi dan penyesuaian-penyesuaian dengan konteks lingkungan dan zaman di mana ia hidup. Pada masa sekarang, di mana batas-batas geopolitik telah digariskan dengan lebih tegas dan kehidupan menetap telah menjadi pola umum, ruang lingkup petualangan seperti ini pun mengalami penyesuaian.

Sesungguhnyalah dalam hal ini terjadi proses pergulatan antara imaji dan realitas di mana sang petualang memiliki aspirasi dan harapan tertentu tentang kehidupan di tanah baru. Bayangan keindahan, peluang, heroisme, dan masa depan di tempat baru yang lebih cerah menggayuti benak para petualang sehingga membuat mereka rela menempuh berbagai kesulitan. Imajinasi ini semakin nyata ketika realitas di lingkungan tempat tinggal cenderung tidak menyenangkan atau kurang bisa menampung bakat dan minatnya. Maka, dengan kuatnya imajinasi dan buruknya realitas, tak ada lagi yang bisa mencegah mereka meninggalkan kampung halaman.

Pergulatan semacam ini juga berlaku dalam kasus migrasi yang lebih kontemporer atau perpindahan dari desa ke kota yang lazim terjadi di tengah-tengah kita. Bayangan tentang gemerlap kota dan peluang yang diberikannya, baik politik, ekonomi, pendidikan, kebudayaan terus hinggap di kepala banyak orang. Sementara, kenyataan riil kehidupan di kampung halaman (di desa) yang kadang kala seperti tanpa harapan, monoton, dan, oleh karenanya, kurang menantang, kian mengukuhkan imaji-imaji tentang kota. Dan, sering kali karena tergoda imajinasi ini, atau benar-benar merasa tanpa harapan, banyak orang meninggalkan kampung halaman untuk mencoba merebut peluang di kota-kota besar.

Namun, hukum alam menyatakan setiap aksi menimbulkan reaksi, setiap sebab melahirkan akibat. Dalam hal ini perpindahan dari kota ke desa pun tidak terkecuali. Konsekuensi-konsekuensi dari fenomena ini mencangkup ranah yang luas. Dalam lingkup antropologi, misalnya, hasil akhir dari fenomena ini barangkali adalah proses ruralisasi (pendesaan) kota dan urbanisasi (pengotaan) desa. Di kota-kota besar, para pendatang ini cenderung berkerumun membentuk komunitas sedaerah yang sebisa mungkin mempertahankan segala sesuatu yang dibawa dari lingkungan asal. Pembertahanan budaya seperti ini adalah kecenderungan primordial manusia, kecenderungan alamiah bawaan sejak lahir. Fenomena ini tidak jelek, namun kadang kala bisa menciptakan kerawanan sosial, terutama dalam kasus perbenturan antara dua komunitas yang asertif atau memiliki kadar chauvinisme tinggi.

Sebaliknya, proses pengotaan desa juga memiliki kerawanan tersendiri. Para perantau yang pulang ke kampung halaman cenderung membawa kebiasaan-kebiasaan kota besar yang kadang kala berbenturan dengan nilai-nilai setempat. Dan, yang lebih berbahaya jika yang dibawa adalah sekedar gaya hidup. Namun bagaimanapun, proses perkembangan yang tanpa desain tentu akan membahayakan masyarakat itu sendiri. Bayangkanlah jika tiba-tiba Anda menemukan banyak sekali pemuda di kampung Anda bergaya hidup a la Korea, Hong Kong, atau Singapura. Akibatnya adalah modernitas prematur yang hanya menjadikan desa sebagai pasar dari produk-produk teknologi mutakhir.

Fenomena ini tentu juga berpengaruh secara psikologis, diakui maupun tidak. Terjadi keterbelahan atau, dalam level yang paling parah, benturan kebudayaan dalam diri para perantau. Karena terbiasa hidup dengan nilai-nilai kota namun memiliki keterikatan batin yang kuat dengan desanya, individu-individu perantau ini dihadapkan pada dua pilihan: mengadopsi gaya hidup dan nilai-nilai tempat barunya atau mempertahankan nilai-nilai dan budaya daerah asal. Hasilnya barangkali adalah individu yang canggung: bukan kota sekaligus bukan desa.

Selain itu, tidak semua yang berhijrah ke kota memiliki syarat-syarat dan kemampuan yang diminta oleh kehidupan kota–keterampilan, pengetahuan, kecakapan berkompetisi, dan semua syarat yang dibutuhkan untuk hidup di kota–sehingga justru menimbulkan problem sosial baru. Karena keterampilan yang dimiliki tidak cocok dengan tuntutan kehidupan kota, para pendatang ini cenderung tidak kompetitif dan kemudian terlempar pada sektor-sektor non formal yang akibatnya termarginalkan secara ekonomi, politik, dan kebudayaan. Lebih buruk lagi adalah gambaran nasib yang dialami oleh para pekerja migran kita yang sebagian besar bekerja dalam kondisi kemanusiaan memprihatinkan.

Terakhir, jika seluruh sumber daya manusia, sesuatu yang sangat dibutuhkan dalam pembangunan, pergi bertaruh di kota-kota besar, maka apa yang tersisa bagi desa itu sendiri? Ladang dan sawah membutuhkan tenaga kerja penggarap, sementara agar desa bisa maju juga diperlukan para penggerak. Jika sebagian besar potensi sumber daya manusia dari desa terserap dalam industri dan pusaran kota besar, maka apa yang akan tersisa? Selain itu, dalam skala yang lebih luas, bagaimana ketahanan pangan, seperti yang digalakkan pemerintah saat ini, bisa diujudkan jika tenaga kerja yang bekerja di sektor tersebut semakin sedikit?

Masa Depan di Kampung Sendiri

Sesungguhnya keputusan seseorang untuk tinggal atau pergi dari kampung halaman adalah pilihan personal demikian pula adalah hak setiap orang untuk mewujudkan legenda pribadinya, mencari harta terbesar dalam hidupnya. Namun, yang perlu dipikirkan adalah bagaimana cara agar orang-orang bisa mewujudkan legenda pribadinya di kampung halaman sendiri atau, jika pun terpaksa pergi, paling tidak mengurangi akibat-akibat buruk yang ditimbulkan, baik antropologis, sosiologis, ekonomis, dan psikologis.

Dalam hal ini ada dua cara yang bisa ditempuh. Pertama meredusir imaji-imaji tentang kota yang hidup dalam kepala banyak orang. Kedua, memperbaiki kondisi kehidupan sehingga orang-orang tidak lagi terdorong untuk melakukan migrasi ke kota. Kedua cara ini meliputi level fisik dan non fisik yang harus dijalankan bersama-sama karena saling terkait erat. Yang satu merupakan landasan bagi yang lain.

Meredusir imaji bisa dilakukan melalui program-program pemberdayaan masyarakat desa, fasilitas pemodalan untuk menyokong perekonomian desa, pendampingan, pelatihan dan bimbingan untuk pengembangan usaha-usaha produktif masyarakat dan pertanian, serta program-program perekonomian seperti pemberian kredit ringan untuk industri skala rumah tangga, kecil, dan menengah. Pada tahun 1970-an Korea Selatan di bawah kepemimpinan Presiden Park Chung Hee telah membuktikan bahwa pemberdayaan perekonomian pedesaan lewat program Semaul Undong adalah fondasi kuat bagi tumbuhnya ekonomi industri di Korea Selatan seperti yang kita lihat saat ini. Level kedua, level fisik, mencangkup segala hal yang bisa menjadi aksentuasi dari level non fisik. Dalam hal ini, upaya-upaya untuk menyediakan lapangan kerja sebesar-besarnya melalui proyek padat karya atau yang sejenis, pembangunan berbagai infra struktur, ekonomi, sosial, kesehatan, dan pendidikan yang terjangkau dan adil.

Yang juga tidak kalah penting adalah menciptakan berbagai fasilitas yang berkaitan dengan pemanfaatan waktu luang. Manusia membutuhkan sarana untuk mengisi waktu luang agar kesehatan mentalnya terjaga dengan baik. Dalam hal ini, fasilitas rekreasi, olahraga, dan kesenian adalah beberapa di antaranya. Melalui rekreasi, manusia melepaskan diri dari kepenatan hidup sehari-hari. Sementara kesenian adalah sarana refleksi dan ekspresi diri. Fasilitas kesenian seperti gedung kesenian atau alokasi perhatian yang cukup terhadap kegiatan-kegiatan kreatif akan mendukung kesehatan suatu masyarakat. Terlebih, seperti disebut para ilmuwan sosial, pola pemanfaatan waktu luang merupakan indikator keberadaban suatu masyarakat.

Pertanyaannya yang timbul akan selalu berbunyi siapakah yang bertanggung jawab untuk melaksanakan ini semua? Tentu saja pihak yang memegang otoritas terbesar, dalam hal ini pemerintah daerah dan seluruh cabangnya, eksekutif dan legislatif, memegang tanggung jawab terbesar. Namun jika setiap orang berusaha menciptakan kampung halaman yang bisa mewadahi minat, bakat, dan imajinasinya (politik, ekonomi, sosial, kebudayaan, pendidikan, kesehatan, dan lainnya) atau dengan kata lain, menjadikan bermasa depan di kampung halaman sebagai legenda pribadinya, maka barangkali semua hal ini akan lebih mudah diujudkan. (I.Z.I)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: