Parmin Hadiwardoyo dan Geliat Lemah Calung


Calung merupakan salah satu khazanah kesenian Cilacap dan sekitarnya. Pada masa lalu, kesenian ini pernah menjadi primadona yang dikenal luas dan bisa mengantarkan para pelakunya ke puncak-puncak popularitas dan materi.

Namun, pada masa-masa sekarang ini, alunan gending pengiring Calung kian lirih terdengar dan lenggak-lenggok para penarinya pun kian melemah, sementara popularitasnya kian tergerogoti oleh berbagai kesenian atau media hiburan lain seperti organ tunggal, orkes dangdut, dan campur sari. Saat ini, kian sedikit orang yang bersedia memanfaatkan waktu luangnya untuk menonton atau berlatih Calung–atau barangkali manusia saat ini semakin tidak mempunyai waktu luang akibat terus terdesak kehidupan yang keras. Meski demikian, Calung tetap hidup meski dengan nafas yang kian pendek.

Cangkir mencoba menelusuri gema lirih gamelan Calung dan lenggok lemah para penarinya ke desa Karangputat, Kecamatan Nusawungu, Cilacap. Dulu, desa ini merupakan pusat kesenian Calung di Cilacap.

Awalnya, Cangkir menemui pak Cip Suparman, Penilik Kebudayaan UPT Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kecamatan Nusawungu, pejabat kecamatan yang bertugas membina kesenian. Namun ketika tengah asyik dopokan, tanpa diduga-duga kami kedatangan tamu seorang laki-laki berperawakan sedang. Lelaki kelahiran tahun 1957 asal Banyumas itu memperkenalkan diri sebagai Parmin. “Tapi nama tua saya, Parmin Hadiwardoyo. Biasa, wong Jawa kan punya nama tua,” katanya. Menurut pengakuannya, sejak usia Sekolah Dasar ia sudah sering ikut gendingan (menjadi penabuh gamelan).

Dopokan di ruang tamu pak Cip Suparman itu pun tambah semarak. Ada sepiring gorengan mendoan, apem, dan teh manis anget. Terlebih meski musim hujan, Minggu sore 30 November 2008 itu tetap cerah. Hanya mendung tipis menggelayut di langit desa Karangputat, Nusawungu. Cangkir pun tak menyia-nyiakan kesempatan ini.

Kapan pak Parmin mulai terjun di dunia Calung. Mulabuka-nya bagaimana?

Ya sekitar 1976-1977. Saya kan dari Banyumas. Tapi waktu saya masih bujangan sering ikut rombongan Lengger sini. Pertama kali saya ikuti dulu itu rombongannya mbak Suminah dari desa Kemojing, Kecamatan Binangun. Dan sekarang pun saya masih sering terlibat dalam pentas Calung. Tetapi sejak tahun 1996-an, Calung sebenarnya hampir dikatakan tidak laku.

Faktornya kira-kira apa?

Dengan adanya organ tunggal, campur sari banyak anak muda meninggalkan Calung yang tradisional. Mereka seolah tidak doyan lagi. Karena jarang laku, maka pada tahun 2001 saya mendirikan grup ebeg (Kuda Lumping). Pemainnya rata-rata masih anak-anak sekolah dasar. Itu pun hanya bisa bertahan sampai tahun 2004. Tapi Alhamdulillah grup saya sudah pernah membawa nama baik Kabupaten Cilacap. Tahun 2002, di pantai Ketapang Sidaurip (Binangun) grup saya meraih juara I Festival Kuda Lumping tingkat Karesidenan Banyumas yang diselenggarakan Dinas Pariwisata Kabupaten Cilacap… Ya begitulah. Calung yang sudah kondang saja mengalami pasang surut. Apalagi ebeg. Pemainnya anak-anak sekolah. Setelah lulus mereka merantau. Ada juga yang berumah tangga. Ditambah jarang ada tanggapan, akhirnya kegiatan grup ebeg saya tidak aktif hingga sekarang.

Sulit dibangkitkan lagi?

Anak-anak sekolah sekarang kan sudah tahu, ebeg tidak bisa menjadi gantungan hidup. Mereka sadar, paling hanya 1 sampai 2 tahun berhenti. Akhirnya mereka tidak bersemangat. Tidak beda dengan Calung lah.

Pak Cip Suparman: Kalau Calung sih agak lama. Tahun 1976 sampai 1996 tanggapan satu bulan masih bisa penuh. Menjelang krisis 1996, dengan munculnya campur sari dan organ tunggal, Calung mengalami penurunan. Faktor kedua, karena sering terjadinya kerusuhan saat pentas Calung. Tahun 1997, pernah terjadi pembakaran sampai 5 sepeda motor di desa Sidaurip. Setelah kejadian itu di distrik Kroya pentas Calung tidak boleh dilaksanakan malam hari. Tapi pentas di siang hari pun sering terjadi keributan. Akhirnya, pentas-pentas Calung yang dimungkinkan dapat mengundang keributan, agar berhenti dulu. Tidak siang, tidak malam. Beda dengan di Wangon (Banyumas). Di sana penonton tekun menikmati… Sebenarnya tadi itu juga kesalahan grup-grup Calung sendiri yang mengemasnya kurang pas. Mereka terbawa keinginan penonton. Mereka sering ditodong untuk menyanyikan lagu-lagu dangdut. Lalu kalau sudah bisa memenuhi arus penonton, mereka merasa bagus dan berhasil. Waktu itu mereka sudah banyak yang menyiapkan perangkat musik modern. Akibatnya, Calung yang mereka bawakan kehilangan sifat tradisionalnya. Saat pentas, unsur tradisi yang muncul paling gambyong. Setelah itu, yang seharusnya badutan, biasanya jam 1 malam, malah dipaksa penonton menyanyikan lagu-lagu dangdut atau campursari. Pokoknya yang enak untuk joget… Dari sebanyak 20 kelompok Calung yang ada di Kecamatan Nusawungu, sebagian besar sudah menggunakan perangkat musik seperti drum dan organ. Ditambah dengan saron, sehingga seolah-olah seperti campursari. Sekali lagi itu semua untuk memenuhi tuntutan selera penonton, yang sebagian besar merupakan kalangan muda.

Tetapi apakah para pendukung seni Calung mengandalkan hidup dari adanya tanggapan?

Tidak seperti itu. Memang pandangan umum seperti itu. Mereka sering komentar, “senang ya kerja malam ditemani orang banyak, tapi hasilnya besar.” … Sebenarnya tidak seperti itu. Setelah main, terutama jika tidak ada tanggapan, mereka biasanya melakukan apa yang bisa dikerjakan dan menghasilkan. Seperti yang dari desa Banjarwaru, kebanyakan pemainnya kan tani dan pengrajin bambu. Jadi, meski tidak ada tanggapan, mereka tetap bisa makan. Lain kalau yang grupnya sudah terkenal dan sering laku. Pagi-pagi mau macul atau ngarit masih lelah. Terkecuali beberapa hari sebelumnya ada tetangga yang pesan minta bantuan mengerjakan sesuatu. Mau tidak mau ya berangkat kerja. Biasa kan seperti itu hidup di desa?

Setelah adanya larangan tadi tentunya banyak grup Calung yang gulung tikar. Lalu ke mana para pendukung seni Calung kemudian menggantungkan hidup?

Kebanyakan merantau. Terutama yang lengger-lengger, karena mereka perempuan. Perempuan akan bekerja apa di sini kan bingung. Akhirnya merantau. Dan di sini sama sekali tidak ada generasi penerusnya. Padahal, waktu Calung masih laris di desa Banjarwaru sendiri bisa ada 15 grup Calung. Kalau wayang berarti ada 15 dalang,

Njenengan termasuk dalang?

Haha… iya. Di desa Karangputat hanya saya dan lengger Dasem. Lha Dasem malah baru pulang dari Singapura.

Sekarang di Kecamatan Nusawungu sendiri sebenarnya ada berapa grup Calung?

Pak Cip Suparman: “Waktu masih ramai tanggapan ada sekitar 20-an. Ya, sekarang mereka masih. Belum menyatakan bubar. Tapi yang masih laku, sering ditanggap itu kan hanya beberapa, seperti grupnya Lengger Kami, Ranti Hadi Buwang.”

Seperti apa sih kalau lagi ramai tanggapan?

Grup saya pernah main satu bulan hajat (besar, Syawal) penuh. Bulan Sura libur untuk slametan… Terkadang 1 desa yang nanggap bisa 1 sampai 5 orang. Benar, saya sampai tidak sempat pulang rumah. Soalnya apa? Waktu itu kan masih bersepeda. Naik turun gunung. Mikul calung, mikul kendang. Jadi kepenak, tapi tidak kepenak. Kadang-kadang ada orang bilang, “senengnya, ngode dibatiri (kerja ditemani)”… Kadang saat bar Magrib, dalam kegelapan malam kami jalan kaki membawa peralatan calung. Peralatannya berbunyi saat dibawa. Orang yang pethukan (berpapasan) dengan kami biasanya nggremeng (ngedumel), “ujarku wong jebule penayagan (saya kira orang ternyata penabuh calung)!”… Padahal kami masih orang haha … Yah seperti itu pahit getirnya Calung. Ini sering terjadi sekitar tahun 1977-an. Tapi sampai sekarang jarang yang menjadi sugih (kaya). Hanya sugih sedulur (Saudara). Kaya Anda ke sini, kan nanti jadi sedulur.

Pak Parmin tadi kan termasuk dalang. Lha sebelum jadi dalang, jadi apa dulu?

Soalnya saya kan dapat istri penari Lengger (bu Karsih) dari desa ini (Karangputat). Sebelumnya saya hanya penayagan (penabuh Calung). Waktu itu kebetulan mertua saya yang sudah lama jadi dalang sudah sepuh. Akhirnya saya menggantikannya.

Yang harus dilakukan seorang dalang Lengger itu apa saja?

Banyak sekali. Misal jika ada orang manjér (kasih uang muka) sesuai kesepakatan, saya catat kapan, hari dan tanggal apa, di mana mainnya, nama dan alamat pemesannya mana. Dari situ saya mulai berpikir bagaimana mencari penayagan, cari kendaraan, sajen (sesaji) dan sebagainya. Yang nanggap kadang-kadang kan tidak memikirkan hal-hal seperti itu. Mereka tahunya beres… Terkadang orang-orang dari Kabupaten menyarankan, agar kendaraan yang kami gunakan untuk mengangkut rombongan diberi spanduk bertuliskan ROMBONGAN LENGGER. Tapi polisi kan tidak mau tahu. Kalau surat-surat kendaraan tidak lengkap ya tetap kena tilang. Kadang-kadang surat sudah lengkap, dicari-cari hingga kami tetap kena tilang. Karena berurusan dengan polisi akhirnya sampai tempat main kami terlambat. Terkadang jam 8 (malam) harusnya sudah pentas, kami masih di jalan. Sampai di tempat pentas kami dimarahi karena dianggap menyalahi janji. Dan mereka tidak mau tahu. Padahal sebelumnya saya telah mempersiapkannya. Misalnya kalau ditanggap di Banyumas, di daerah pegunungan sana, jam 5 sore harus berangkat… Tapi ada saja kendalanya. Kadang karena pemainnya terlambat datang.

Lah kalau untuk menjadi Lengger bagaimana? Sebelum jadi Lengger, seorang calon Lengger harus bagaimana dulu?

Seperti yang tadi sudah saya singgung. Dulu Calung kan pernah laris. Waktu itu siapa yang tidak ingin jadi Lengger? Asal di daerah Lengger sini (Karangputat dan Banjarwaru), hanya nonton orang pun bisa joget. Bisa ngimbangi permainan Lengger. Mungkin karena daerah ini ada “Indang”nya… Kalau ingin bisa menari cukup berlatih dengan Lengger yang sering payu (laris). Waktu itu belum ada pelatih. Tapi Alhamdulillah bisa jadi. Menarinya bagus. Akhirnya para calon Lengger diajak pentas bareng oleh Lengger-lengger yang sudah jadi. Tapi sebelumnya biasanya diajak mider (ngamen) dari desa ke desa dulu.

Jadi dites dulu ya?

Ya. Yang jelas mider merupakan tes mental bagi calon Lengger. Itu jaman dulu… Grup saya juga pernah mengalami itu. Peralatan calung yang dibawa mider juga komplet. Tapi yang dandan (berias) biasanya hanya Lenggernya. Lalu kalau mider ke gunung biasanya kami bawa bekal makanan yang cukup. Cari pondokan ke orang yang sudah kami kenal di sana. Jadi kami tidak pulang. Setelah beberapa bulan mider kami pulang untuk slametan (kenduri, upacara minta selamat) dengan biaya hasil mider.

Untuk apa slametan?

Ya untuk meresmikan. Menyatakan bahwa Lenggernya sudah jadi. Di situ kami memberi nama grup.

Grup pak Parmin diberi nama apa?

Mudo Utomo.

Meski saat ini Calung tradisional mengalami masa surut, menurut pengakuan pak Parmin, hampir tiap tahun lengger-lengger dari Nusawungu mengisi agenda pentas di anjungan Jawa Tengah Taman Mini Indonesia Indah. (Bockroy)

2 Balasan ke Parmin Hadiwardoyo dan Geliat Lemah Calung

  1. Semplo mengatakan:

    Selamat buat pak Parmin, telah membawa Calung “Mudha Utama” Cilacap ke pentas dunia. Dan Indonesia Performing Art Mart V 2009 memang oke

  2. baroon kiswantoro mengatakan:

    dengan seni tradisional calung moga kebudayayan cilacap tidak punah{salam buat pak parmin}

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: