Seniman dan Kampung Halaman


Sentralitas kota-kota besar sebagai pusat ekonomi, politik, pendidikan, kebudayaan, informasi, teknologi, membuat kota seolah memberi ruang aktualisasi diri yang lebih longgar. Tidak heran, jika banyak orang yang kemudian berpindah ke kota. Di antara sekian banyak kelompok yang melakukan hijrah semacam itu, salah satunya adalah seniman.

Terutama bagi para seniman, kota menyediakan segala sesuatu yang mereka butuhkan untuk mengaktualisasikan diri. Infrastruktur kesenian, baik fisik maupun non fisik, yang lebih lengkap, media publikasi karya, galeri, gedung kesenian, infrastruktur pelatihan dan pendidikan kesenian seperti perguruan tinggi, diskusi, dan even-even kesenian yang digelar secara rutin, baik mingguan, bulanan, maupun tahunan. Ringkasnya, segala sesuatu yang bisa mendukung masa depan karier kesenian mereka tersedia di kota.

Adalah menarik menyimak jawaban dari para seniman yang berhasil dihubungi oleh Cangkir. Nanang Ana Noor, misalnya, memandang kampung halaman dengan ngelangut dan romantik. “Mendengar kata kampung halaman selalu identik dengan kesedihan, mengilhami rasa cinta saya pada alam, romantisme dan sikap melankolis kepada ibu ayah. Saya tumbuh dan besar di luar. Akan tetapi kampung halaman adalah lagu-lagu lama yang memenjarakanku dalam rindu,” demikian tuturnya.

Sementara Toto, pemuda asal Patimuan Cilacap yang kini bekerja sebagai kru film di Jakarta mengaku kesulitan untuk mendapatkan kerja di kampung halaman. Saat Cangkir menemuinya di sela-sela proses penggarapan film Romeo-Juliet, sebuah film yang bercerita tentang suporter kesebelasan Persija, nada pesimis meluncur dari mulutnya, “Lha nang Cilacap arep kerja apa, Mas?” begitu katanya. “Nang nggonku, nek ora bisa macul kue mending metu kang kampung…soale ora bisa urip.” Dia menambahkan, “lha.. sing jelas kerja nang Jakarta entuke lewih gede kaya kuwe baen lah! Trus juga, nang Cilacap kue langka pengusaha sing peduli karo gerakane bocah-bocah enom… Ngonoh njenengan arep polah kaya apa bae langka sing peduli mbok. (lihat dalam boks).

Toto bukanlah satu-satunya anak muda dari wilayah Karesidenan Banyumas yang bekerja menjadi kru film. Bersamanya masih ada pemuda-pemuda lain dari Purwokerto, Kroya, Karangpucung, Sumpiuh. Mereka tinggal dalam satu kompleks perumahan di kawasan Cijantung Jakarta.

Terbatasnya lapangan kerja adalah alasan utama mengapa mereka meninggalkan rumah. Sementara faktor lain seperti kesejahteraan kian menguatkan tekad orang-orang seperti Toto untuk meninggalkan kampungnya di Patimuan, Cilacap. Pemandangan seperti ini bukanlah hal asing bagi kita. Setiap tahun, ketika musim lebaran datang, kita menyaksikan sejumlah orang menggunakan bus, menggunakan kereta, atau moda transportasi lainnya mudik ke kampung halaman. Ketika lebaran selesai, kita menyaksikan orang-orang ini berangkat lagi dan biasanya membawa serta saudara, teman, atau kenalan, wajah-wajah baru yang siap menaklukkan Jakarta, Bandung, Surabaya, atau kota-kota besar lainnya.

Namun, tidak semua seniman keluar dari kampung halaman. Di Cilacap, Purwokerto masih banyak seniman lain yang tetap setia tinggal di kampungnya. Individu-individu seperti Ahmad Tohari, Badrudin Emce, Daryono, Anshor Balasikh, Bambang Set, dan seniman-seniman lain masih tetap setia menunggui kampungnya. Mereka tetap aktif berproses kreatif sembari menjalani profesi lain. Ahmad Tohari, misalnya, kini menjadi pengelola BMT, sementara Badrudin Emce dan Anshor Balasikh bekerja sebagai pegawai negeri sipil. Selain mereka, kita juga bisa menyebut komunitas-komunitas anak muda seperti Bunga Pustaka, Teater Hujan Tak Kunjung Padam dari Purwokerto, Sangkanparan dari Cilacap, Cahaya Muda Cilacap, dan rombongan Tjlatjapan Poetry Forum dari Cilacap serta banyak lagi yang lain. Mereka inilah yang sering menghidupkan kegiatan-kegiatan kebudayaan dan kesenian di seantero eks Karesidenan Banyumas.

Berbagai keterbatasan yang mereka temui di kampung halaman tidak membuat mereka menyerah, justru mereka menyikapinya dengan kreatif dan menjadikan realitas sebagai sumber inspirasi yang tiada habisnya. Novel-novel Ahmad Tohari seperti Ronggeng Dukuh Paruk, Bekisar Merah, dan lainnya adalah cerita tentang kondisi yang terjadi di kampung halamannya. Sementara, refleksi kreatif Badrudin Emce dituangkannya dalam sebuah buku kumpulan puisi berjudul Binatang Suci Teluk Penyu yang di antara memuat puisi-puisi tentang Benteng Pendem, Nusakambangan, Kroya, Srandil. Menurut Badrudin, “di kampung banyak kenangan yang perlu dihidupkan secara kreatif agar tetap segar seperti kuah soto perapatan,” entah soto prapatan mana yang ia maksud. Pelukis Daryono Yunani asal Cilacap bertutur bahwa dirinya ingin mengangkat segala sesuatu yang ada di kampung halaman agar bisa dinikmati secara global. Dengan bergelora Daryono menambahkan dirinya bisa tetap hidup meski kondisi di kampung halaman kurang bisa mendukung karier kesenimanannya.

Hampir sama dengan itu, Sigit Emwe dari Purwokerto menganggap kampung halaman penuh dengan misteri yang harus dikuak, meski dia mengakui bahwa untuk bisa objektif ia harus hijrah dan memandangnya dari luar. Dengan sudut pandang romantik, Rahmi Segara dari Purwokerto berkata, “Purwokerto bagi saya bukan sekedar kampung halaman. Konvensi masyarakatnya tidak mungkin membuat saya berlari dari seni. Berkarya bagi saya adalah sebuah metamorfosa dan Purwokerto begitu setia menyaksikan saya tumbuh berkembang.”

Bagi seniman lain, pergi atau tetap tinggal di kampung halaman bukanlah hal yang harus dirisaukan karena proses kreatif dalam seni pada hakikatnya adalah proses spiritual yang melampaui batas-batas ruang dan waktu. Hal seperti ini dilontarkan Ganjar Wisnu Murti dari Cilacap, “saya pikir proses adalah sebuah petualangan jiwa, pengetahuan, kegelisahan, cinta, atau bahkan rasa purba. Pada saat bentuk wadag bisa bergeser, hati tetap di satu titik. Jadi, kampong atau kota, menetap atau pindah bukan apa-apa.” Senada dengan itu Alfian Harfi penyair dari Cilacap mengatakan, “bagi saya, tinggal di kampung halaman atau di kampung asing tidak terlalu menjadi masalah selama saya tak henti mencari dalam intuisi saya percik-percik hidup dan keindahan.” Dia menambahkan, “mereka yang hijrah bisa menemukan komunitas dan hal-hal asing yang belum terpahami. Sementara di rumah sendiri, saya pun menemukan keterasingannya.” (lihat boks)

Ya. Seni adalah soal petualangan pikiran. Memusatkan energi kreatif untuk merefleksikan bermacam hal hingga mencapai kemungkinan terjauh dan paling terang untuk kemudian diekspresikan dalam media kreatif. Pada dasarnya, pilihan-pilihan untuk tetap tinggal atau hijrah ke tempat lain adalah pilihan yang murni individual, meski faktor-faktor yang melatari pengambilannya sangat kompleks.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: